Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026

Keminveshil/BKPM: Kepercayaan Investor Global Tetap Terjaga

Jakarta, 26 Juni 2026 – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung, persepsi mengenai kondisi investasi Indonesia kerap dinilai berdasarkan pergerakan pasar keuangan maupun sentimen jangka pendek. Padahal, untuk melihat tingkat kepercayaan investor terhadap suatu negara, salah satu indikator yang lebih akurat dalam mencerminkan keputusan investasi jangka panjang adalah Foreign Direct Investment (FDI) atau Penanaman Modal Asing (PMA).

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Dendy Apriandi mengatakan, investasi langsung berbeda dengan aliran modal di pasar keuangan yang cenderung lebih mudah dipengaruhi sentimen global. FDI merupakan keputusan bisnis jangka panjang yang didasarkan pada pertimbangan fundamental ekonomi, prospek pasar, kepastian regulasi, hingga keberlanjutan investasi.


"Menarik investasi bukanlah pekerjaan yang mudah di tengah situasi geopolitik global saat ini. Data menunjukkan investor asing tetap tertarik berinvestasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari realisasi investasi yang terus tumbuh, termasuk kontribusi Penanaman Modal Asing yang mencapai 50,1 persen pada Triwulan I 2026. Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap terjaga," ujar Dendy.


Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan bahwa realisasi Penanaman Modal Asing pada Triwulan I 2026 mencapai Rp250,0 triliun, atau 50,1 persen dari total realisasi investasi sebesar Rp498,8 triliun. Capaian tersebut melanjutkan tren peningkatan PMA dalam beberapa tahun terakhir, dari Rp147,2 triliun (TW I 2022), Rp177,0 triliun (TW I 2023), Rp204,4 triliun (TW I 2024), Rp230,4 triliun (TW I 2025), hingga mencapai Rp250,0 triliun pada tahun ini.


Menurut Dendy, konsistensi pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menarik bagi investor global. Hal ini juga tercermin dari keberagaman negara asal investor, di mana Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang menjadi lima investor terbesar di Indonesia pada Triwulan I 2026.


Lebih lanjut, Dendy menegaskan bahwa manfaat investasi tidak hanya tercermin dari besarnya nilai realisasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian nasional.


"Yang lebih penting, investasi tidak hanya tercermin di pasar keuangan, tetapi juga mengalir ke sektor-sektor strategis yang meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Itulah manfaat nyata investasi yang dirasakan masyarakat," jelasnya.


Sepanjang Triwulan I 2026, realisasi investasi berhasil menyerap 706.569 tenaga kerja Indonesia, menunjukkan bahwa investasi terus memberikan kontribusi nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi di berbagai daerah.


Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan perizinan, peningkatan kepastian berusaha, serta penguatan kebijakan hilirisasi agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang kompetitif di tingkat global.


"Investasi hari ini menentukan masa depan generasi selanjutnya. Karena itu, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang semakin ramah bagi investor agar investasi terus tumbuh dan terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Dendy. (*)


Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Biro Protokol dan Hubungan Masyarakat

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM

Email: humas@bkpm.go.id



Powered by sagara 2022